24/04/15

Pidato Jokowi di KAA, Angkat Martabat Bangsa

PIDATO Presiden RI Joko Widodo pada pembukaan Konferensi Asia Afrika 2015 di Jakarta. Menegaskan posisi Indonesia sebagai negara strategis yang terletak di antara dua benua bagi negara-negara Asia Afrika.

Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit, berpenduduk Muslim terbesar di muka bumi, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia. Siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan.

Hal tersebut berdasarkan, sekarang ini masih sarat dengan ketidakdilan, kesenjangan dan kekerasan global. Cita cita bersama mengenai lahirnya sebuah peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran, masih jauh dari harapan.

Jokowi juga mengingatkan enam puluh tahun lalu bapak Bangsa Indonesia, Presiden Soekarno, mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia Afrika untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka, yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperalisme.

Komunikasi lugas yang disampaikan Jokowi di depan petinggi negara-negara Asia Afrika, turut menyinggung keberadaan dan peran PBB dan lembaga donor internasional seperti ADB, IMF, dan Bank Dunia.

Bahwa aksi-aksi kekerasan tanpa mandat PBB telah menafikkan keberadaan badan dunia ini. Oleh karena itu, Jokowi mengajak bangsa-bangsa di Asia Afrika mendesak reformasi PBB. Agar berfungsi secara optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi semua bangsa.

Sementara bagi lembaga donor internasional. Jokowi menilai pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan internasional itu. Dia mengajak adanya reformasi arsitektur keuangan global untuk menghilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain.

Analisis

Komunikasi lengkap Presiden RI Joko Widodo dalam Konferensi Asia Afrika ingin menekankan permasalahan utama yang telah digagas oleh Presiden Sukarno pada 60 tahun silam. Pertama, kesejahteraan. Kedua, solidaritas. Ketiga, stabilitas internal dan eksternal serta penghargaan pada HAM.

Selain itu, mengajak bangsa-bangsa Asia Afrika untuk mendukung kemerdekaan dan kelahiran negara baru Palestina, yang telah lama menderita di bawah tekanan bangsa lain.

Jokowi juga menolak berbagai ancaman kekerasan, pertikaian dan radikalisme seperti ISIS, yang harus melindungi hak-hak rakyat. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, menyatakan perang pada narkoba yang menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa.

Indonesia membuka peluang sebagai pemrakarsa pertemuan informal negara-negara Organisasi Kerjasama Islam dalam mencari penyelesaian berbagai konflik yang melanda dunia Islam. Agar terciptanya stabilitas dan keamanan sebagai prasyarat pembangunan bangsa.

Dari sisi perdagangan, Jokowi mengajak jalur laut, aman bagi lalu lintas perdagangan dunia dalam meningkatkan investasi, membangun kerja sama ekonomi antara kawasan, dan saling membantu konektivitas.

Konektivitas tersebut menyangkut pelabuhan, bandara dan jalan. Untuk mewujudkan itu Indonesia siap menjadi jembatan maritim yang menghubungkan dua benua Asia Afrika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar