22/04/15

Indonesia Minim PR di Ajang World Economic Forum 2015

MOMENTUM World Economic Forum-East Asian (WEF-EA) 2015 untuk menarik minat investasi asing ke negeri ini tampaknya tidak maksimal. Penyebabnya adalah Indonesia kekurangan tenaga promosi atau public relations untuk meyakinkan sekitar 800 petinggi perusahaan di dunia. Supaya membenamkan investasinya ke Indonesia.

Menko Perekonomian Indonesia Sofjan Djalil mengatakan, forum ini penting bagi Indonesia. Karena selama ini, RI dianggap berkinerja bagus, tapi komunikasinya kurang bagus. “India sebaliknya, komunikasinya sangat bagus, walaupun implementasinya tidak sehebat publikasinya. Jadi kita ini kekurangan public relations. Program seperti inilah, PR ke publik yang paling murah,” ujarnya di sela-sela WEF-EA 2015 di Jakarta, Selasa (21/4).

Pernyataan Sofjan itu menyiratkan pemerintah Indonesia kurang sukses memanfaatkan pertemuan kelas internasional yang berlangsung selama 19-21 April 2015 di Jakarta. Apalagi event ini bersamaan dengan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-60, sebagai ajang promosi murah untuk menarik investasi ke dalam negeri.

Padahal, target yang ingin dicapai Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla atas penyelenggaraan forum ini adalah menarik investasi diberbagai sektor. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% dengan pertumbuhan investasi rata-rata 10,2% per tahun, seiring dengan target realisasi investasi sebesar Rp3.500 triliun selama 2015-2019.

Efektifitas PR

Praktisi PR memiliki cara berpikir dan memecahkan masalah yang unik dan efektif. Ada beberapa langkah meningkatkan efektivitas kegiatan PR, di antaranya mengadakan kontak yang lebih efektif dengan the right stakeholders, menyampaikan pesan utama yang relevan dan konsisten, serta identifikasi poin penting yang ingin didengar oleh calon investor.

Selain itu praktisi PR juga mampu melakukan pengaturan komunikasi yang menggabungkan dan mengkoordinasikan unsur-unsur marketing, produksi, customer service dan distribusi. Pesan-pesan tersebut merupakan komitmen suksesnya PR yang biasanya dijalankan.

Tentu saja komitmen yang dilakukan PR berlandaskan pada etika, teknologi komunikas, perkembangan profesionalitas, serta kemampuan “interconnectedness” sebagai bagian dari ekosistem bisnis yang bekerja sama dengan kompetitor, supplier, dan pelanggan.

Perlu dipahami bahwa praktisi PR merupakan representatif dari perusahaan, media, pelanggan, community leaders, atau government officials yang memiliki kemampuan membuat major impact dalam lingkungan bisnis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar