02/08/16

Riset NUS: Kualitas CSR di Indonesia Rendah

Riset Centre for Governance, Institutions, and Organizations National University of Singapore (NUS) Business School mempublikasikan hasil riset terbarunya tentang kualitas tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) terhadap 100 perusahaan di empat Negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Hasil riset memaparkan Thailand menjadi negara dengan kualitas implementasi CSR paling tinggi dengan nilai 56,8 dari total 100 dan Singapura mendapatkan 48,8. Sementara Indonesia mendapatkan nilai 48,4 dan Malaysia meraih 47,7.

Menurut riset itu, perusahaan di Indonesia memiliki kualitas CSR yang lebih rendah dibandingkan perusahaan asal Thailand. Kondisi itu menyebabkan rendahnya kualitas pengoperasian agenda tersebut.

Kriteria penilaian kualitas diambil berdasarkan sejumlah indikator dari kerangka Global Reporting Initiative (GRI), di antaranya tata kelola perusahaan, ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam acara Conference on Corporate Governance and Responsibility: Theory Meets Practice, yang digelar oleh NUS dan ASEAN CSR Network (ACN). Konferensi ini bertujuan menghubungkan pelbagai pemangku kepentingan untuk pembangunan berkelanjutan.

Direktur CGIO National University of Singapore Business School, Lawrance Loh mengatakan, empat negara sampel tersebut memiliki tingkat pelaporan CSR yang tinggi, namun tak otomatis membuat kualitas praktiknya pun tinggi. Pelbagai perusahaan di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand memberikan perhatiannya terhadap pentingnya pelaporan CSR.

“Namun, jika dilihat dari kualitasnya, praktik CSR jauh lebih baik diimplementasikan perusahaan-perusahaan Singapura dan Thailand dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia,” kata Loh di Singapura, Rabu (20/7/2016).

Berdasarkan studi tersebut pemerintah dan pemangku kepentingan industri memiliki peran dalam memastikan pelaporan CSR yang berkelanjutan. Hal itu dinilai sebagai kunci utama tata kelola perusahaan.

Selain itu, keterlibatan akademisi dan riset menjadi kunci penting dalam mendorong penyuluhan terhadap praktik bisnis berkelanjutan. Melalui kemitraan antar pihak swasta-publik, ASEAN bisa menjadi salah satu tempat terbaik untuk melakukan bisnis yang sehat secara sosial dan lingkungan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar