16/02/18

Klik, Konten & Trust



Penulis: Agung Laksamana, Ketua Umum Perhumas

Pada sebuah kesempatan, actor Danzel Washington mendapat pertanyaan dari seorang jurnalis tentang pandangannya terhadap dunia media. Dan, Denzel pun menjawab lugas, "If you don't read the newspaper, you're uninformed. If you do read it, you're misinformed.” (Jika Anda tidak membaca berita, Anda tidak akan mendapatkan informasi. Namun, jika Anda membaca, Anda menjadi mendapat informasi yang salah)

“Lantas apa yang Anda lakukan?” tanya wartawan itu kembali. “Itu pertanyaan yang baik!” kata Denzel. “Apa dampaknya jika kita terlalu banyak mendapatkan informasi? Efeknya adalah kita ingin mendapatkan informasi secepat-cepatnya, bukan yang benar. Karenanya, media harus menyiarkan sebuah kebenaran. Bukan yang pertama,” kata Denzel kembali.

Aktor kenamaan itu mengatakan lebih jauh bahwa saat ini kita hidup di mana arus informasi terus hadir dan ingin menjadi yang pertama. Mereka tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. “Kita seakan tidak peduli ketika ada yang terluka. Kita tidak peduli jika ada yang hancur. Kita tidak lagi peduli meskipun hal yang ada tidaklah benar. Kita hanya memberitakan, dan menjualnya,” kata Denzel.

Apa yang dikatakan Denzel memang benar adanya. Inilah realita yang kita hadapi. Dunia teknologi telah mengubah wajah media di seluruh dunia dan menjadikan kecepatan menjadi hal yang utama. Prinsip yang dihadirkan pun sangat sederhana. Menghadirkan konten secepat-cepatnya dengan judul yang bombastis dan menomorduakan kebenaran atau fakta yang ada. Bahkan demi klik bermunculan hoaxes dan fake news.
Lantas, bagaimana jika ternyata berita yang disajikan salah? Toh, nanti bisa direvisi pada berita selanjutnya. Jika memang menjadi masalah, media yang bersangkutan cukup merevisi atau meminta maaf. Masalah pun akan selesai!. Namun sebenarnya tidak semudah itu!. Dengan berita tersebut, bisa jadi reputasi dan brand Anda telah hilang. Sirna! Damage has been done!

Mudahnya begini. Berita cepat itu pasti menghasilkan dampak. Bisa saja informasi telah menyebar luas sehingga membuat arus informasi menjadi bisa. Masyarakat, dalam hal ini pembaca akan mendapatkan informasi yang salah. Jika pembaca terus mengikuti media yang bersangkutan, mungkin saja mereka akan mengikuti pula ‘revisi’ yang terjadi. Namun, bagaimana jika tidak? Maka pembaca itu akan hanyut dalam sebuah ketidakbenaran informasi.

Dalam era disrupsi seperti sekarang, pertanyaan besar yang selalu diutarakan adalah bagaimana masa depan industri media nanti? Tumbangnya sejumlah media cetak di dunia membuat mereka berbondongbondong ke ranah digital. Dunia online pun menjadi masa depan.

Namun, media online yang ada di dunia, termasuk Indonesia sangatlah banyak. Persaingan membuat banyak media online yang datang silih berganti, harus menghadapi sulitnya mendapatkan iklan, dan memaksa pemain untuk terus mencari akal agar bisa bertahan.

Berbagai skema bisnis pun diubah setiap saat. Ada yang masih mengharapkan iklan, ada yang mengharapkan klik sebagai tujuan, ada yang menghadirkan berita secepat-cepatnya, ada yang menjual langganan berbayar, mencari investor baru, dan masih banyak lagi. Semua skema bisnis tengah diuji coba oleh media di dunia untuk bertahan. Akhirnya klik menjadi hal yang utama.

Jika media-media konvensional yang kredibel ini semakin tergerus disrupsi perubahan zaman alias menghamba pada klik maka publik pun akan sulit mencari media yang layak mereka percaya (trusted) sebagai fondasi atas sebuah kebenaran. Alhasil, hoaxes dan fake news akan menjadi referensi publik dan memenuhi lanskap berita yang sudah dipenuhi agenda setting pemilik kepentingan di luar sana.

Ini meresahkan!. Hal ini tidak luput dari perhatian dan kegusaran praktisi hubungan masyarakat (Humas), termasuk saya. Media dan Humas adalah satu kesatuan yang sulit terpisahkan.  
Humas membutuhkan media, begitu pula sebaliknya, sebuah hubungan yang saling menghormati dan menguntungkan (mutually beneficial relationship). Layaknya seorang sahabat, kesulitan yang dihadapi oleh pelaku media di Indonesia saat ini tentunya mengundang perhatian praktisi humas.


Pada 9 Februari, insan pers Indonesia memperingati Hari Pers Nasional. Praktisi humas yang ada di Indonesia, tentunya berharap besar agar pelaku pers di Indonesia serta awak media yang ada di dalamnya dapat terus tumbuh berkembang. Saya pun berharap agar media di Indonesia semakin matang dan bisa menjaga idealisme dan integrity-nya. Ekspektasi para praktisi Humas adalah media di Indonesia dapat mempertahankan keakuratannya.

Tidak saja mengandalkan kecepatan dan menomorduakan kebenaran. Tidak semata hanya mencari klik, melainkan selalu mengutamakan kekuatan konten dan trust. Humas pun berharap teman-teman media di Indonesia dapat menjalankan fungsi peran strategisnya, yaitu sebagai pilar keempat demokrasi.

Tanpa adanya media maka negara ini pun tak akan bisa bertahan seperti sekarang ini. Di tengah ketatnya persaingan konten dan arus tsunami informasi yang cepat dan deras, reputasi dari sebuah brand media yang trusted menjadi kritikal bagi publik saat ini. Media yang secara konsisten mampu memperjuangkan keakuratan, kebenaran, in-depth dalam konten serta keberimbangan yang akan bertahan.

Masyarakat Indonesia pun pada akhirnya bisa menyeleksi mana media yang layak mereka jadikan referensi. Dengan kata lain, media yang mereka percayai. Trust! Lebih jauh lagi, harapan praktisi Humas agar konten media di Indonesia untuk terus membangkitkan semangat optimisme dengan #Indonesiabicarabaik! Berbahasa dan bertutur kata yang baik! Karena Indonesia membutuhkan Anda semua, sahabatku, para awak media.

Selamat Hari Pers Nasional!

Diterbitkan Bisnis Indonesia, 9 February 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar