23/04/13

Manfaat Pesan Nonverbal Bagi Humas

PESAN tidak hanya bersifat verbal ada juga yang bersifat nonverbal. Pesan verbal biasanya terlukis dari kata-kata yang disampaikan secara lisan maupun tulisan yang dituangkan dalam berbagai bentuk media.

Sementara pesan nonverbal berwujud dalam berbagai bentuk sarana. Pemahaman pesan verbal jauh lebih mudah dibandingkan dengan pesan nonverbal.

Dalam konteks komunikasi Kehumasan, pesan nonverbal sangat penting untuk dicermati secara baik yang bisa memberikan makna berbeda untuk setiap ragam situasi.

Pertama, berkaitan dengan bahasa tubuh seperti gerakan kepala, postur tubuh, eskpresi wajah termasuk pula tatapan mata. Sebagai contoh, dalam budaya tertentu gelengan kepala bisa bermakna sebagai tanda tidak sepakat, menolak, atau lainnya. Tetapi untuk budaya lain (masyarakat India), gelengan kepala bisa bermakna sebaliknya.

Kedua, pesan nonverbal berkaitan dengan sentuhan yang berwujud tamparan, cubitan, tepukan belaian, pelukan, pegangan tangan, dan sebagainya.

Menjabat tangan dengan erat, merupakan tanda persahabatan, akrab hangat untuk budaya tertentu. Namun dalam budaya lain, mungkin tanda persahabatan itu akan diwujudkan dalam pelukan atau mungkin pula dalam bentuk sentuhan tangan.

Ketiga, berkaitan dengan para bahasa. Para bahasa atau vocal mengacu pada aspek-aspek seperti nada bicara yakni nada tinggi, rendah. Atau intensitas suara dalam wujud kualitas vokal seperti kejelasan suara, dialek, gerutu, dan sebagainya.

Dari perspektif komunikasi, karakteristik suara ini mengkomunikasikan sebuah emosi dan pikiran dari pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi.

Keempat, pesan nonverbal berkaitan dengan penampilan fisik. Setiap budaya mempunyai persepsi terhadap penampilan fisik seperti busana yang dipakai, ornament yang dikenakan seseorang dan sebagainya.

Banyak sub-budaya atau komunitas mengenakan busana yang khas sesuai dengan karakteristik kelompok mereka.

Kelima, pesan nonverbal berkaitan dengan posisi duduk dan pengaturan ruangan. Posisi duduk akan menimbulkan penafsiran tertentu bagi orang yang melihatnya. Dalam sub-budaya tertentu di Indonesia, orang tua atau yang dituakan, biasanya cenderung mengambil posisi duduk di tempat terdepan.

Keenam, pesan nonverbal berkaitan dengan waktu. Ada budaya tertentu yang memaknai waktu secara polikronik (berulang kali). Sementara budaya lain memahami waktu secara monokronik.

Makna waktu adalah sesuatu yang tidak berulang kembali sehingga harus dibuat pengaturan yang sangat ketat. Orang polikronik cenderung mengartikan jam karet sebagai sesuatu yang biasa. Sementara yang monokronik mengartikan sesuatu yang buruk dan harus diperbaiki.

Tentu masih banyak pesan nonverbal lain seperti penggunaan warna dan jarak yang memberikan makna komunikasi berbeda. Seorang praktisi Humas perlu memahami makna pesan nonverbal ini. Pemahaman akan pesan komunikasi menjadi salah satu tuntutan dalam konteks ekonomi global, baik tingkat regional maupun internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar